Cemburu, Siapa Takut?
Cemburu. Seringkali kata ini dianggap sebagai kambing
hitam terkoyaknya hubungan suami istri. Percayalah, tidak selamanya asumsi itu
benar. Sebab cikal-bakal cinta sejati, berdirinya rumah-tangga yang kokoh,
lahirnya juga dari sifat cemburu.
Cemburu itu bumbu cinta. Bumbu yang akan lebih
menyedapkan romantika dalam bercinta. Rasulullah mencela seorang suami yang
tidak mempunyai rasa cemburu. Atau sebaliknya isteri yang bukan pencemburu.
Istilahnya dayyus.
Alkisah, Aisyah pernah cemburu lantaran Rosul
berulang-ulang menyebut kebaikan Khadijah binti Khuwailid, isteri pertama
beliau saw. "Rasulullah jika mengingat Khadijah, tak bosan-bosannya memuji
dan beristighfar untuknya. Hingga pada suatu hari beliau menyebut-nyebutnya
yang membuatku terbawa oleh rasa cemburu. Aku berkata, 'Allah telah
menggantikan yang lanjut usia itu bagimu.' Aku saksikan beliau sangat marah.
Aku sangat menyesal sambil berdoa dalam hati: Ya Allah, jika Engkau hilangkan
kemarahan RasulMu terhadapku, aku tak akan lagi menyebutkan kejelekannya,"
kisah Aisyah.
Masih dari kisah yang sama, disebutkan Rosul marah
mendengar ucapan istrinya yang masih belia dan rupawan itu, seraya berkata,
"Apa yang kau katakan? Demi Allah, ia beriman ketika orang-orang
mendustakan aku. Ia melindungi ketika orang-orang menolakku. Darinya aku
dikaruniai anak-anak dan tidak aku dapatkan dari kalian."
Melihat reaksi suaminya, jelas Aisyah terpagut. Ia tak
menyangka Rasul sekeras itu menanggapi perkataannya. Sebuah ekspresi kecintaan
luar biasa Nabi pada Khadijah, yang kian membakar tungku kecemburuan Aisyah.
Khadijah ra, umul mukminin berakhlaq agung, memang patut mendapat cinta Nabi.
Tapi justru kecemburuan itu yang akhirnya memicu Aisyah berazam kuat untuk
menapaki jejak sukses Khadijah merebut cinta agung Rosulullah saw.
Cemburu, selain ia sebagai indikator fenomena fitrah
insaniyah, sikap itu memang sesuatu yang disunahkan Nabi. Dalam makna lebih
luas, kelangsungan ekosistem fitrah alam pun sesungguhnya juga terkait erat
dengan sifat cemburu.
Kita tidak bisa membayangkan, apa yang bakal terjadi
pada dunia manusia bila mereka tak lagi memiliki rasa cemburu. Dalam etika
pergaulan pasangan suami istri, jelas ia wajib ada. Suami yang tak pernah
cemburu melihat istrinya keluyuran malam hari sendirian misalnya. Atau cuek
melihat istrinya pindah dari pangkuan satu lelaki ke pangkuan lelaki lain.
Jelas ini merupakan fenomena rusaknya fitrah seorang insan.
Hilangnya perasaan cemburu dari diri manusia tak lain
lantaran, manusia terus-menerus memperturutkan hawa nafsunya. Alquran
mengisyaratkan hal itu. "Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang
buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka kelak
mereka akan menemui kesesatan." (QS 19:59)
Padahal turunan dari perilaku selalu memperturutkan hawa
nafsu, adalah tercampaknya rasa malu dari dalam diri manusia. Itulah yang kini
terjadi dalam pergaulan masyarakat Barat yang telah rusak. Ironinya, radiasi
kerusakan itu telah merambah luas ke masyarakat Indonesia, khususnya kalangan
muda-mudi. Kata Nabi, "Kalau engkau sudah tidak punya rasa malu, maka
lakukan apa saja sesukamu."
Dalam tinjauan aqidah, malu dan iman merupakan dua sisi
mata uang yang tak terpisah. Sebuah hadist mengatakan, "Dari Imron bin
Hushoin ra berkata: Rasulullah saw bersabda, malu itu tidak menimbulkan sesuatu
kecuali kebaikan samata." (HR Bukhori-Muslim)
Di hadist lainnya diriwayatkan, "Abu Hurairoh ra
berkata: Rasulullah saw bersabda, 'Iman itu lebih dari 70 atau lebih dari 60
cabang rantingnya, yang terutamanya adalah kalimat Laa Ilaha Illallah.
Serendah-rendahnya yaitu menyingkirkan gangguan dari tengah jalan. Dan rasa
malu adalah bagian dari iman.'"
Yang pasti, malu adalah batas pembeda yang tegas antara
manusia dengan binatang. Wajar binatang tidak punya rasa malu, karena ia tidak
dikaruniai Allah swt nalar dan perasaan. Tapi jangan lupa binatang masih punya
rasa cemburu. Lihatlah betapa kuatnya cemburu seekor merpati jantan pada
pasangannya. Ia akan marah bila pasangannya direbut rekannya. Kalau demikian,
apa yang kita bisa katakan pada manusia yang tidak lagi memiliki rasa cemburu
dan malu?
Dari sini kita tau kenapa Alquran begitu sarkas mengecam
manusia-manusia yang telah menjadi budak nafsu. "Ulaika kal an'am, balhum
adhol" - "Mereka bagaikan binatang ternak, bahkan lebih hina
lagi". Bukankah di dunia ayam misalnya, tak pernah terjadi ayam jantan
dewasa memperkosa anak ayam perempuan? Bukankah tak pernah terjadi perilaku
homo atau lesbi dalam dunia kerbau atau keledai?
Jika demikian kita boleh tarik satu konklusi,
cemburu-malu-iman, pada hakikatnya berada pada satu garis linear.
Sesungguhnyalah ketiga unsur itu menjadi satu senyawa yang menimbulkan gairah
hidup manusia untuk memelihara kehormatan dan meningkatkan amaliahnya.
Kecemburuan Aisyah pun akhirnya berujung pada tekad
kuatnya untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas amalnya. Sebab Aisyah
menyadari bahwa hanya dengan modal cantik jasmani semata, ia tak mungkin mampu
merebut cinta agung Rasulullah. Ia harus mempercantik bathinnya, mempercantik
akhlaknya, mempercantik amalnya, dan mempercantik lisannya. Ini sebuah
kecemburuan positif dan konstruktif.
Seharusnyalah para istri maupun suami harus cemburu
ketika ia tak mendapatkan perhatian dan cinta dari pasangannya. Kalau terjadi
kasus demikian, jangan dulu kalap dan menyalahkan pasangannya. Cobalah lakukan
evaluasi dan kontemplasi. Jangan-jangan pemicunya adalah, lantaran keadaan
masing-masing dalam kondisi stagnan. Tidak pernah ada peningkatan kualitas
fisik, kualitas amal, apalagi kualitas akhlak dalam berumah tangga (misalnya
berkomunikasi secara mesra) pada masing-masing pihak.
Adalah keliru cemburu dibalas oleh dendam, yakni dengan
cara mempertontonkan perilaku urakan dan tercela. Misalnya marah-marah lalu
menggaet perempuan/laki-laki lain dan mempertontonkannya secara demonstratif di
depan pasangannya. Na'udzubillah min dzalik. Inilah yang terjadi pada dunia
Barat saat ini, yang telah penuh sesak dengan kasus-kasus perselingkuhan.
Berapa ratus bahkan ribu rumah-tangga yang broken home. Kemudian dari situ
lahir generasi-generasi yang secara turun temurun mengukuhkan tradisi bejad:
seks bebas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar