TUJUAN HIDUP MENURUT ISLAM
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد الله الذي هدانا لهذا وما
كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله من يهد الله فلا مضلله فلا هادي له. اشهد أن لآاله
الا الله وحده لا شريك له. واشهد أن محمدا عبده ورسوله. والصلاة والسلام على من لا
نبي بعده. وعلى اله واصحبه ومن تبعه ووالاه. )امابعد( فياايها
المسلمون اوصيكم واياي بتقوى الله. فقد فازمن تقى وخاب من طغى.
Segala puji syukur ke hadirat Allah SWT
yang telah memberikan kita kesempatan sehingga kita dapat melanjutkan akivitas
kita sebagaimana mestinya. Shalawat dan salam atas junjungan Nabi Muahammad SAW
yang telah membimbing ummatnya menuju jalan yang di ridhai Allah SWT.
Allah
swt. menciptakan alam seisinya adalah sebagaimana amanat untuk manusia; sebab
itulah Allah menetapkan kedudukan manusia sebagai khalifah-Nya.
Sebagai
khalifah pengemban amanat Allah manusia berkewajiban menyelenggarakan kehidupan
yang sesuai dengan tuntunan Allah yaitu suatu kehidupan yang bahagia dan penuh
kemaslahatan yang dihiasi oleh Nur Islam.
Dengan
demikian Hakikat hidup manusia adalah mengabdi kepada Allah dengan tujuan mengharap
ridha'-Nya, sehingga semua yang diperbuat selama hidup dapat membuahkan
kebahagiaan dunia dan akhirat.
Hakikat
dan tujuan hidup inilah yang merupakan kendali agar dalam hidupnya manusia
tidak akan berbuat dan bersikap sewenang-wenang.
Kita
menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, karena kita semua pada
saatnya akan dipanggil kembali oleh Allah untuk meneruskan hidup di alam
kelanggenan.
Oleh
sebab itulah Islam memerintahkan umatnya untuk mempersiapkan diri dengan bekal
yang cukup untuk hidup di dunia dan di akhirat kelak.
Dan
itulah kiranya arah sabda Nabi saw. sebagai berikut:
اعمل لدنياك كأنك تعيش ابدا، واعمل لأخرتك كأنك تموت
غدا (الحديث)
Artinya : "Berusahalah
untuk urusan duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya; dan berusahalah
untuk urusan akhiratmu seolah engkau akan mati esok hari".
Hadis
di atas jelas menganjurkan keseimbangan usaha duniawi dan ukhrawi; juga
merupakan peringatan bahwa amaliah-amaliah yang kita kerjakan di dunia sangat
mempengaruhi keadaan kita di akhirat, bahagia atau celaka.
Teman-teman yang seperjuangan
Akan tetapi kita juga tidak dapat
memungkiri bahwa justru karena sementara itulah kehidupan dunia terasa indah
dan manis, sehingga tidak sedikit manusia yang terbujuk dan terpikat sehingga
ia lupa akan hakikat dan tujuan hidupnya lalu terjerumuslah ia kelembah
kesesatan dan timbullah kesewenang-wenangannya.
Ia
berusaha menikmati manisnya hidup dunia sepuas-puasnya sehingga iapun bersedia
melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kenikmatan itu.
Ia
tidak segan-segan melakukan pemerasan, penindasan terhadap sesamanya; iapun
tidak ragu-ragu lagi melakukan penipuan dan membohong, yang penting ia berhasil
mendapatkan kenikmatan, baik yang berwujud harta benda, kedudukan, wanita
ataupun lain-lainnya.
Jika
sudah demikian keadaan seorang hilanglah kasih sayang dan rasa persaudaraan,
yang berarti pula lenyaplah imannya terhadap Allah.
Padahal
satu ciri orang yang beriman ialah adanya rasa kasih sayang sesama hamba Allah,
sebagaimana sabda Nabi saw.:
لا
يؤمن احدكم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه (رواه البخارى ومسلم)
Artinya : "Tidak
beriman seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia
mencintai diri sendiri".
(H. R.
Bukhari dan Muslim)
Nyatalah
menurut keterangan hadits di atas bahwa kasih sayang sesama hamba Allah, atau
lebih tegasnya sesama Muslim adalah merupakan ukuran Iman.
Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa penyakit yang sangat berbahaya dalam kehidupan
bermasyarakat ialah hilangnya rasa kasih sayang dan persaudaraan.
Itulah
salah satu sebab diangkatnya para Utusan Allah; dan itu pulalah sebab
pentingnya manusia beragama.
Islam
sebagai agama yang dibawa oleh Muhammad saw. merupakan nasihat bagi orang-orang
yang berada dalam kesesatan, sebagaimana sabda Nabi saw. :
الدين النصيحة. (رواه مسلم)
Artinya : "Agama adalah nasihat". (HR. Muslim).
Islam
memberikan nasihat kepada ummatnya bahwa sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah
sementara dan merupakan permainan yang memperdayakan, sebagaimana tertera dalam
firman Allah :
وما
الحياة الدنيا الا متاع الغرور. (آل عمران: 185)
Artinya : "Kehidupan
dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan". (S. Ali
Imran, ayat 185).
Berdasarkan
ayat di atas Islam memerintahkan ummatnya untuk menjalani kehidupan dunia ini
dengan cara-cara terpuji yaitu dengan tolong menolong sesama hamba Allah dalam
berbuat kebajikan dan taqwa; juga diperintahkan kepada kita semua agar memupuk
rasa persatuan dan persaudaraan.
Firman
Allah dalam Al-Qur'an :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا
بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (الحجرات : 10)
Artinya : "Sesungguhnya
orang-orang Mu'min adalah bersaudara maka damaikanlah antara kedua saudaramu
dan bertqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat". (S. Al-Hujurat, ayat 10).
Dalam ayat lain disebutkan :
وَاعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا (آل عمران : 103)
Artinya
: "Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah (yakni agama Islam) dan
janganlah bercerai berai". (S.
Ali Imran, ayat 103).
Dua
ayat di atas merupakan bukti nyata bahwa Islam sangat menekankan persatuan,
persaudaraan atas dasar kasih sayang sesama Muslim. Sebagai pengertiannya ialah
bahwasanya Islam tidak menghendaki tindakan sewenang-wenang, kekejaman dan
penindasan yang lebih populer disebut sebagai Kolonialisme dan Imperialisme.
Saudara-saudara
kaum Muslimin yang berbahagia.
Kita
menyadari bahwa tidak sedikit saudara-saudara kita yang dalam hidupnya sangat
menghajatkan pertolongan, yaitu mereka yang termasuk golongan para fuqara dan
masakin; itulah sebabnya dalam Islam terdapat perintah berzakat serta anjuran
bershadaqah.
Perintah
zakat dan anjuran bershadaqah ini merupakan bukti bahwa Islam tidak menghendaki
adanya kemelaratan dan kemiskinan; Islam menghendaki kebahagiaan hidup yang
merata, sehingga menurut Islam di dalam harta yang dimiliki oleh si kaya
sebenarnya terdapat hak si miskin.
Sekiranya
kesadaran akan hakikat dan tujuan hidup telah terperinci dalam hati tiap
pribadi Muslim, maka tidak ada keberatan bagi si kaya membantu si miskin, yaitu
dengan memberikan zakat dan shadaqahnya; sebaliknya si miskin pun tidak
keberatan menyerahkan tenaganya untuk membantu pekerjaan si kaya. Dengan
demikian terdapatlah suatu kehidupan yang harmonis, tenggang menenggang,
sehingga terciptalah suatu masyarakat yang aman dan damai atas dasar kasih
sayang sesamanya, penuh ampunan dan ridla Allah.
Itulah tujuan hidup dalam Islam, yang
menurut istilah populernya dikenal dengan sebutan sebagai masyarakat
Sosialistis religious.
Akan tetapi untuk mencapai masyarakat
yang demikian itu tidak hanya cukup dengan bergantungnya si miskin kepada
uluran tangan si kaya, lebih dari itu Islam memerintahkan kepada ummatnya agar
selalu bekerja keras dengan memeras keringat, kreatif dan produktif untuk
menjadikan diri mereka masing-masing sebagai orang-orang yang berpenghasilan,
sehingga tidak terdapat satu golongan manusia yang dianggap memberatkan
masyarakat.
Oleh
sebab itu kita bekerja sekuat tenaga mencari bekal hidup dengan niat ikhlas
mengharap ridla' Allah; juga hendaknya kita senantiasa melandasi setiap usaha
dengan Iman dan taqwa sehingga semua pekerjaan kita merupakan ibadat; ibadat
dalam pengertian yang luas yaitu mencakup urusan hubungan sesama hamba Allah
dan hubungan antar Allah dan Al-Khaliq, yang lebih lazim disebut Hablumminallah Dan Hablumminannas.
Teman-teman sekalian yang di ridhai Allah
Di
dalam melaksanakan Hablun minannaas kita akan dihadapkan pada masalah yang
bermacam-macam sesuai kepentingan dan bidang kita masing-masing.
Namun
kesemuanya menuntut sikap dan tindakan yang baik, yaitu sikap dan tindakan yang
didasari dengan akhlaq Islam.
Sebab
jika seseorang telah mempunyai akhwal Islam maka akan menjadi orang yang rela
berkorban; ia akan lebih mementingkan kemaslahatan ummat dari pada mementingkan
urusan pribadi, sebab ia yakin bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang
besar manfaatnya bagi masyarakat, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi saw. dalam
sabdanya yang artinya kurang lebih demikian :
Artinya : Sebaik-baik
manusia adalah orang yang sanggup menjadikan dirinya sebesar-besar manfaat di
tengah-tengah masyarakat". (HR.
Thabrani).
Juga
dalam melaksanakan Hablun minallaah kita dituntut untuk membersihkan hati dan
'aqidah dari noda-noda syirik, sehingga hubungan kita dengan Allah merupakan
bukti penghambaan diri yang tulus ikhlas sebagai ketaatan yang mutlak.
Berbahagialah
orang yang menyadari hakikat dan tujuan hidupnya dan berusaha menjalani
hidupnya dengan berpegang erat pada tuntunan Allah, dan Rasul-Nya, sebab hanya
dengan tuntunan itulah terhindar dari kesesatan.
Sabda
Rasulullah saw.:
تركت
فيكم امرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما: كتاب الله وسنة نبيه. (رواه ابن عبد البرى)
Artinya : Telah
kutinggalkan bagimu dua perkara yang tak akan tersesat kamu semua jika
berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah RasulNya".
Hadits di atas menjelaskan
bahwasanya Al-Qur'an dan Al-Hadits merupakan pedoman hidup yang telah dijamin
kebenarannya, sehingga bagi mereka yang taat mengikuti ajaran-ajaran Al-Qur'an
dan Al-Hadits tidak akan tergelincir dalam kesesatan.
Secara
keseluruhan Al-Qur'an dan Al-Hadits menuntun kita dalam berhubungan dengan
sesamanya maupun dalam hubungan dengan Allah swt.
Tidak
dapat diragukan lagi orang yang perjalanan hidupnya selalu bersandar pada dua
peninggalan Rasulullah itu maka ia akan menunjukkan perangai terpuji itulah
timbulnya amal-amal shaleh.
Dari
perangai terpuji itu pulalah tumbuhnya sikap rela berkorban untuk orang lain
dalam arti memperjuangkan kebahagiaan masyarakatnya manuju keridlaan dan
ampunan Allah. Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghapur.
Lebih
dari itu semua amal baktinya dilaksanakannya tanpa pamrih ataupun karena
mengejar keuntungan pribadi; semuanya dilakukannya dengan niat ikhlas karena
Allah semata-mata, sebagai pancaran imannya yang teguh.
Leh sebab itu marilah
kita laksanakan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya dan kita tinggalkan semua
larangan-larangan-Nya.
Semoga
kita senantiasa memperoleh rahmat dan petunjuk Allah untuk mencapai cita-cita
agama dan bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar