4/03/2014

TUJUAN HIDUP MENURUT ISLAM

TUJUAN HIDUP MENURUT ISLAM
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد الله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله من يهد الله فلا مضلله فلا هادي له. اشهد أن لآاله الا الله وحده لا شريك له. واشهد أن محمدا عبده ورسوله. والصلاة والسلام على من لا نبي بعده. وعلى اله واصحبه ومن تبعه ووالاه. )امابعد( فياايها المسلمون اوصيكم واياي بتقوى الله. فقد فازمن تقى وخاب من طغى.   
Segala puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan sehingga kita dapat melanjutkan akivitas kita sebagaimana mestinya. Shalawat dan salam atas junjungan Nabi Muahammad SAW yang telah membimbing ummatnya menuju jalan yang di ridhai Allah SWT.
Allah swt. menciptakan alam seisinya adalah sebagaimana amanat untuk manusia; sebab itulah Allah menetapkan kedudukan manusia sebagai khalifah-Nya.
Sebagai khalifah pengemban amanat Allah manusia berkewajiban menyelenggarakan kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Allah yaitu suatu kehidupan yang bahagia dan penuh kemaslahatan yang dihiasi oleh Nur Islam.
Dengan demikian Hakikat hidup manusia adalah mengabdi kepada Allah dengan tujuan mengharap ridha'-Nya, sehingga semua yang diperbuat selama hidup dapat membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Hakikat dan tujuan hidup inilah yang merupakan kendali agar dalam hidupnya manusia tidak akan berbuat dan bersikap sewenang-wenang.
Kita menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, karena kita semua pada saatnya akan dipanggil kembali oleh Allah untuk meneruskan hidup di alam kelanggenan.
Oleh sebab itulah Islam memerintahkan umatnya untuk mempersiapkan diri dengan bekal yang cukup untuk hidup di dunia dan di akhirat kelak.
Dan itulah kiranya arah sabda Nabi saw. sebagai berikut:                                                                                
اعمل لدنياك كأنك تعيش ابدا، واعمل لأخرتك كأنك تموت غدا (الحديث)
Artinya : "Berusahalah untuk urusan duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya; dan berusahalah untuk urusan akhiratmu seolah engkau akan mati esok hari".
Hadis di atas jelas menganjurkan keseimbangan usaha duniawi dan ukhrawi; juga merupakan peringatan bahwa amaliah-amaliah yang kita kerjakan di dunia sangat mempengaruhi keadaan kita di akhirat, bahagia atau celaka.
Teman-teman yang seperjuangan
Akan tetapi kita juga tidak dapat memungkiri bahwa justru karena sementara itulah kehidupan dunia terasa indah dan manis, sehingga tidak sedikit manusia yang terbujuk dan terpikat sehingga ia lupa akan hakikat dan tujuan hidupnya lalu terjerumuslah ia kelembah kesesatan dan timbullah kesewenang-wenangannya.
Ia berusaha menikmati manisnya hidup dunia sepuas-puasnya sehingga iapun bersedia melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kenikmatan itu.
Ia tidak segan-segan melakukan pemerasan, penindasan terhadap sesamanya; iapun tidak ragu-ragu lagi melakukan penipuan dan membohong, yang penting ia berhasil mendapatkan kenikmatan, baik yang berwujud harta benda, kedudukan, wanita ataupun lain-lainnya.
Jika sudah demikian keadaan seorang hilanglah kasih sayang dan rasa persaudaraan, yang berarti pula lenyaplah imannya terhadap Allah.
Padahal satu ciri orang yang beriman ialah adanya rasa kasih sayang sesama hamba Allah, sebagaimana sabda Nabi saw.:
لا يؤمن احدكم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه (رواه البخارى ومسلم)
Artinya :   "Tidak beriman seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai diri sendiri".                                             
                 (H. R. Bukhari dan Muslim)
Nyatalah menurut keterangan hadits di atas bahwa kasih sayang sesama hamba Allah, atau lebih tegasnya sesama Muslim adalah merupakan ukuran Iman.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penyakit yang sangat berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat ialah hilangnya rasa kasih sayang dan persaudaraan.
Itulah salah satu sebab diangkatnya para Utusan Allah; dan itu pulalah sebab pentingnya manusia beragama.
Islam sebagai agama yang dibawa oleh Muhammad saw. merupakan nasihat bagi orang-orang yang berada dalam kesesatan, sebagaimana sabda Nabi saw. :
 الدين النصيحة. (رواه مسلم)
Artinya : "Agama adalah nasihat". (HR. Muslim).
Islam memberikan nasihat kepada ummatnya bahwa sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah sementara dan merupakan permainan yang memperdayakan, sebagaimana tertera dalam firman Allah :
وما الحياة الدنيا الا متاع الغرور. (آل عمران: 185)
Artinya :   "Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan". (S. Ali Imran, ayat 185).
Berdasarkan ayat di atas Islam memerintahkan ummatnya untuk menjalani kehidupan dunia ini dengan cara-cara terpuji yaitu dengan tolong menolong sesama hamba Allah dalam berbuat kebajikan dan taqwa; juga diperintahkan kepada kita semua agar memupuk rasa persatuan dan persaudaraan.
Firman Allah dalam Al-Qur'an :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (الحجرات : 10)
Artinya :     "Sesungguhnya orang-orang Mu'min adalah bersaudara maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat". (S. Al-Hujurat, ayat 10).
Dalam ayat lain disebutkan :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا (آل عمران : 103)
Artinya : "Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah (yakni agama Islam) dan janganlah bercerai berai". (S. Ali Imran, ayat 103).
Dua ayat di atas merupakan bukti nyata bahwa Islam sangat menekankan persatuan, persaudaraan atas dasar kasih sayang sesama Muslim. Sebagai pengertiannya ialah bahwasanya Islam tidak menghendaki tindakan sewenang-wenang, kekejaman dan penindasan yang lebih populer disebut sebagai Kolonialisme dan Imperialisme.
Saudara-saudara kaum Muslimin yang berbahagia.
Kita menyadari bahwa tidak sedikit saudara-saudara kita yang dalam hidupnya sangat menghajatkan pertolongan, yaitu mereka yang termasuk golongan para fuqara dan masakin; itulah sebabnya dalam Islam terdapat perintah berzakat serta anjuran bershadaqah.
Perintah zakat dan anjuran bershadaqah ini merupakan bukti bahwa Islam tidak menghendaki adanya kemelaratan dan kemiskinan; Islam menghendaki kebahagiaan hidup yang merata, sehingga menurut Islam di dalam harta yang dimiliki oleh si kaya sebenarnya terdapat hak si miskin.
Sekiranya kesadaran akan hakikat dan tujuan hidup telah terperinci dalam hati tiap pribadi Muslim, maka tidak ada keberatan bagi si kaya membantu si miskin, yaitu dengan memberikan zakat dan shadaqahnya; sebaliknya si miskin pun tidak keberatan menyerahkan tenaganya untuk membantu pekerjaan si kaya. Dengan demikian terdapatlah suatu kehidupan yang harmonis, tenggang menenggang, sehingga terciptalah suatu masyarakat yang aman dan damai atas dasar kasih sayang sesamanya, penuh ampunan dan ridla Allah.
Itulah tujuan hidup dalam Islam, yang menurut istilah populernya dikenal dengan sebutan sebagai masyarakat Sosialistis religious.
Akan tetapi untuk mencapai masyarakat yang demikian itu tidak hanya cukup dengan bergantungnya si miskin kepada uluran tangan si kaya, lebih dari itu Islam memerintahkan kepada ummatnya agar selalu bekerja keras dengan memeras keringat, kreatif dan produktif untuk menjadikan diri mereka masing-masing sebagai orang-orang yang berpenghasilan, sehingga tidak terdapat satu golongan manusia yang dianggap memberatkan masyarakat.
Oleh sebab itu kita bekerja sekuat tenaga mencari bekal hidup dengan niat ikhlas mengharap ridla' Allah; juga hendaknya kita senantiasa melandasi setiap usaha dengan Iman dan taqwa sehingga semua pekerjaan kita merupakan ibadat; ibadat dalam pengertian yang luas yaitu mencakup urusan hubungan sesama hamba Allah dan hubungan antar Allah dan Al-Khaliq, yang lebih lazim disebut Hablumminallah Dan Hablumminannas.
Teman-teman sekalian yang di ridhai Allah
Di dalam melaksanakan Hablun minannaas kita akan dihadapkan pada masalah yang bermacam-macam sesuai kepentingan dan bidang kita masing-masing.
Namun kesemuanya menuntut sikap dan tindakan yang baik, yaitu sikap dan tindakan yang didasari dengan akhlaq Islam.
Sebab jika seseorang telah mempunyai akhwal Islam maka akan menjadi orang yang rela berkorban; ia akan lebih mementingkan kemaslahatan ummat dari pada mementingkan urusan pribadi, sebab ia yakin bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang besar manfaatnya bagi masyarakat, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi saw. dalam sabdanya yang artinya kurang lebih demikian :
Artinya :     Sebaik-baik manusia adalah orang yang sanggup menjadikan dirinya sebesar-besar manfaat di tengah-tengah masyarakat". (HR. Thabrani).
Juga dalam melaksanakan Hablun minallaah kita dituntut untuk membersihkan hati dan 'aqidah dari noda-noda syirik, sehingga hubungan kita dengan Allah merupakan bukti penghambaan diri yang tulus ikhlas sebagai ketaatan yang mutlak.
Berbahagialah orang yang menyadari hakikat dan tujuan hidupnya dan berusaha menjalani hidupnya dengan berpegang erat pada tuntunan Allah, dan Rasul-Nya, sebab hanya dengan tuntunan itulah terhindar dari kesesatan.
Sabda Rasulullah saw.:
تركت فيكم امرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما: كتاب الله وسنة نبيه. (رواه ابن عبد البرى)
Artinya :     Telah kutinggalkan bagimu dua perkara yang tak akan tersesat kamu semua jika berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah RasulNya".
              Hadits di atas menjelaskan bahwasanya Al-Qur'an dan Al-Hadits merupakan pedoman hidup yang telah dijamin kebenarannya, sehingga bagi mereka yang taat mengikuti ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Al-Hadits tidak akan tergelincir dalam kesesatan.
Secara keseluruhan Al-Qur'an dan Al-Hadits menuntun kita dalam berhubungan dengan sesamanya maupun dalam hubungan dengan Allah swt.
Tidak dapat diragukan lagi orang yang perjalanan hidupnya selalu bersandar pada dua peninggalan Rasulullah itu maka ia akan menunjukkan perangai terpuji itulah timbulnya amal-amal shaleh.
Dari perangai terpuji itu pulalah tumbuhnya sikap rela berkorban untuk orang lain dalam arti memperjuangkan kebahagiaan masyarakatnya manuju keridlaan dan ampunan Allah. Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghapur.
Lebih dari itu semua amal baktinya dilaksanakannya tanpa pamrih ataupun karena mengejar keuntungan pribadi; semuanya dilakukannya dengan niat ikhlas karena Allah semata-mata, sebagai pancaran imannya yang teguh.
Leh sebab itu marilah kita laksanakan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya dan kita tinggalkan semua larangan-larangan-Nya.

Semoga kita senantiasa memperoleh rahmat dan petunjuk Allah untuk mencapai cita-cita agama dan bangsa.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar