4/04/2014

Menunda Kesenangan Kecil Demi Kesuksesan Besar

Seberapa banyak yang ingin kita raih di dalam hidup ini ?
Apakah kita telah puas dengan kondisi saat ini, ataukah masih ada keinginan untuk terus menggapai hal-hal baru, yang selama ini belum kita dapatkan ?
Dalam proses kita untuk mencapai tujuan itu, ada rintangan yang seringkali menghambat langkah kita sesaat. Saat kita bisa menyelesaikan rintangan itu, akan membuat langkah kita ke depan menjadi semakin kuat dan mantap. Tapi kadang-kadang, seringkali tanpa sadar, saat kita bisa menyelesaikan suatu masalah, kita merasa sudah puas dengan kondisi itu, dan langkah kita terhenti disana.
Kita seolah sudah lupa, bahwa tujuan utama kita sebenarnya belum tercapai. Ibaratnya, saat kita bersekolah, kita mendapat nilai sepuluh dalam sebuah test harian. Dan kita sudah cukup puas dengan nilai itu, padahal ujian-ujian itu tadi hanyalah proses-proses sementara, karena bukankah tujuan utama dalam bersekolah adalah naik kelas, dan lulus ? Kesenangan-2 kecil, tentu perlu juga dirayakan, karena bisa memberikan kebahagiaan, kebanggaan dan kesenangan sementara. Tapi tentu kita tidak boleh terlena di dalamnya lalu berhenti disana. Setelah kesenangan itu selesai dirayakan, kita harus kembali bekerja keras pada jalur utama yang kita tuju. Orang-orang yang sukses di dunia ini, mereka bahkan berani menunda kenikmatan kecil mereka, demi sebuah tujuan utama yang lebih besar.
Sebuah kisah nyata yang tepat bagaimana kita menunda kesenangan kecil demi mendapatkan kesuksesan yang lebih besar, adalah Sylvester Stallone. Dia memang kini salah satu aktor termahal di Hollywood, tapi tahukah anda bagaimana dia memulai karirnya ? Stallone lahir dari sebuah keluarga miskin di Amerika. Walau demikian, latar belakang keluarga tidak menghalanginya untuk bermimpi menjadi seorang bintang besar. Saat remaja, dia sudah sering mencoba casting di beberapa film murahan, namun itupun tidak pernah berhasil. Suatu saat, Stallone terinspirasi pada sebuah pertandingan tinju, yang membuatnya menulis tentang manuscipt film olahraga tinju, “Rocky”.
Setelah selesai, Stallone mencoba menawarkan skrip-nya kepada berbagai perusahaan film, tapi tidak ada yang mau membelinya, karena pada saat itu memang film dengan latar belakang tinju tidak laku di pasaran. Sampai akhirnya, ada sebuah perusahaan yang mau menawar harga naskah film tersebut sebesar 75.000 dollar, sejumlah uang yang nilainya puluhan kali lipat dari uang yang pernah dimiliki Stallone.
Saat itu, ada kebimbangan di dalam hatinya. Uang itu, cukup untuk membuatnya hidup lebih layak dan makmur. Tapi di sisi lain, Stallone ingin menjadi seorang bintang, seorang aktor terkenal, bukan seorang penulis naskah film. Jadi Stallone mencoba menawarkan kepada perusahaan film tersebut, agar dia yang menjadi aktor utamanya. Mereka menolak, karena mereka sudah memilih seorang aktor yang sudah berpengalaman untuk film tersebut, dibanding Stallone yang tidak punya latar belakang dan pengalaman di film. Negosiasi menjadi alot, karena Stallone menolak menjual naskah tersebut jika bukan dia yang menjadi pemeran utamanya. Bahkan saat harga naskah itu meningkat tiga kali lipat, dan terus meningkat hingga satu juta dollar, Stallone tetap menolaknya. Walau ia miskin dan lapar, tapi dia berani menolak uang satu juta dollar, hanya karena dia sudah punya impian yang kuat, bahwa dengan menjadi aktor, dia bisa memperoleh uang jauh lebih banyak dari uang satu juta dollar.
Akhirnya, perusahaan film itu menyerah juga, dan mereka mengijinkan Stallone menjadi pemeran utama, dengan syarat naskah itu dijual hanya dengan harga 35.000 dollar, serta Stallone hanya akan mendapat bayaran sebagai aktor sejumlah persentase tertentu jika film itu cukup laku di pasaran. Sebuah pilihan berisiko tinggi diambil oleh Stallone. Mengorbankan uang 75.000 dollar, dan hanya mendapatkan 35.000 dollar plus tambahan lagi beberapa ribu dollar jika film itu laris. Semua orang di sekitarnya mengatakan bahwa keputusan itu adalah keputusan terburuk yang pernah diambil Stallone. Tapi Stallone tidak menggubris itu semua, karena di hatinya dia tahu, bahwa yang dia lakukan ini hanyalah menunda kesenangan sesaat, untuk mendapatkan kesenangan lain yang lebih besar.
Pada waktu film Rocky diluncurkan, bukan saja film itu menjadi laris, tapi bahkan menjadi box office di seluruh dunia, dengan total penjualan bersih menjadi 171 juta dollar, meraih 10 nominasi untuk academy awards, serta mendapatkan satu piala Oscar. Secara spontan, Stallone langsung naik daun menjadi aktor kelas atas Hollywood, dan tawaran main film kelas satupun mulai berdatangan ke dirinya. Apa yang dialami oleh Sylvester Stallone adalah sebuah pilihan untuk berani menunda kesenangan-kesenang an kecil, dan berjuang untuk meraih kesuksesan yang lebih tinggi lagi.

Jangan pernah terjebak dengan kenyamanan sementara, yang kadang membuat kita merasa sudah puas, padahal bukan itu sebenarnya yang kita inginkan. Nikmati hasil sementaranya, tapi tetaplah punya visi ke depan yang jelas, untuk terus mengejarnya. Sukses untuk anda !

Membangun Motivasi Dalam Diri

Cita-cita atau tujuan hidup ini hanya bisa diraih jika anda memiliki motivasi yang kuat dalam diri anda. Tanpa motivasi apapun, sulit sekali anda menggapai apa yang anda cita-citakan. Tapi tak dapat dipungkiri, memang cukup sulit membangun motivasi di dalam diri sendiri. Bahkan mungkin anda tidak tahu pasti bagaimana cara membangun motivasi di dalam diri sendiri. Padahal sesungguhnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi tersebut.
Caranya? coba simak tips berikut ini:
1. Ciptakan sensasi
Ciptakan sesuatu yang dapat “membangunkan” dan membangkitkan gairah anda saat pagi menjelang. Misalnya, anda berpikir esok hari harus mendapatkan keuntungan 1 milyar rupiah. Walau kedengarannya mustahil, tapi sensasi ini kadang memacu semangat anda untuk berkarya lebih baik lagi melebihi apa yang sudah anda lakukan kemarin.
2. Kembangkan terus tujuan anda
Jangan pernah terpaku pada satu tujuan yang sederhana. Tujuan hidup yang terlalu sederhana membuat anda tidak memiliki kekuatan lebih. Padahal untuk meraih sesuatu anda memerlukan tantangan yang lebih besar, untuk mengerahkan kekuatan anda yang sebenarnya. Tujuan hidup yang besar akan membangkitkan motivasi dan kekuatan tersendiri dalam hidup anda.
3. Tetapkan saat kematian
Anda perlu memikirkan saat kematian meskipun gejala ke arah itu tidak dapat diprediksikan. Membayangkan saat-saat terakhir dalam hidup ini sesungguhnya merupakan saat-saat yang sangat sensasional. Anda dapat membayangkan ‘flash back’ dalam kehidupan anda. Sejak anda menjalani masa kanak-kanak, remaja, hingga tampil sebagai pribadi yang dewasa dan mandiri. Jika anda membayangkan ‘ajal’ anda sudah dekat, akan memotivasi anda untuk berbuat lebih banyak lagi selama hidup anda.
4. Tinggalkan teman yang tidak perlu
Jangan ragu untuk meninggalkan teman-teman yang tidak dapat mendorong anda mencapai tujuan. Sebab, siapapun teman anda, seharusnya mampu membawa anda pada perubahan yang lebih baik. Ketahuilah bergaul dengan orang-orang yang optimis akan membuat anda berpikir optimis pula. Bersama mereka hidup ini terasa lebih menyenangkan dan penuh motivasi.
5. Hampiri bayangan ketakutan
Saat anda dibayang-bayangi kecemasan dan ketakutan, jangan melarikan diri dari bayangan tersebut. Misalnya selama ini anda takut akan menghadapi masa depan yang buruk. Datang dan nikmati rasa takut anda dengan mencoba mengatasinya. Saat anda berhasil mengatasi rasa takut, saat itu anda telah berhasil meningkatkan keyakinan diri bahwa anda mampu mencapai hidup yang lebih baik.
6. Ucapkan “selamat datang” pada setiap masalah
Jalan untuk mencapai tujuan tidak selamanya semulus jalan tol. Suatu saat anda akan menghadapi jalan terjal, menanjak dan penuh bebatuan. Jangan memutar arah untuk mengambil jalan pintas. Hadapi terus jalan tersebut dan pikirkan cara terbaik untuk bisa melewatinya. Jika anda memandang masalah sebagai sesuatu yang mengerikan, anda akan semakin sulit termotivasi. Sebaliknya bila anda selalu siap menghadapi setiap masalah, anda seakan memiliki energi dan semangat berlebih untuk mencapai tujuan anda.
7. Mulailah dengan rasa senang
Jangan pernah merasa terbebani dengan tujuan hidup anda. Coba nikmati hidup dan jalan yang anda tempuh. Jika sejak awal anda sudah merasa ‘tidak suka’ rasanya motivasi hidup tidak akan pernah anda miliki.
8. Berlatih dengan keras
Tidak bisa tidak, anda harus berlatih terus bila ingin mendapatkan hasil terbaik. Pada dasarnya tidak ada yang tidak dapat anda raih jika anda terus berusaha keras. Semakin giat berlatih semakin mudah pula mengatasi setiap kesulitan.
Kesimpulan:
Motivasi dapat menumbuhkan semangat dalam mencapai tujuan. Motivasi yang kuat di dalam diri, kita akan memiliki apresiasi dan penghargaan yang tinggi terhadap diri dan hidup ini. Sehingga kita tidak akan ragu untuk melangkah ke depan, yaitu mencapai visi hidup kita.
Salam Sukses !

4/03/2014

Cemburu, Siapa Takut?

Cemburu, Siapa Takut?

Cemburu. Seringkali kata ini dianggap sebagai kambing hitam terkoyaknya hubungan suami istri. Percayalah, tidak selamanya asumsi itu benar. Sebab cikal-bakal cinta sejati, berdirinya rumah-tangga yang kokoh, lahirnya juga dari sifat cemburu.
Cemburu itu bumbu cinta. Bumbu yang akan lebih menyedapkan romantika dalam bercinta. Rasulullah mencela seorang suami yang tidak mempunyai rasa cemburu. Atau sebaliknya isteri yang bukan pencemburu. Istilahnya dayyus.

Alkisah, Aisyah pernah cemburu lantaran Rosul berulang-ulang menyebut kebaikan Khadijah binti Khuwailid, isteri pertama beliau saw. "Rasulullah jika mengingat Khadijah, tak bosan-bosannya memuji dan beristighfar untuknya. Hingga pada suatu hari beliau menyebut-nyebutnya yang membuatku terbawa oleh rasa cemburu. Aku berkata, 'Allah telah menggantikan yang lanjut usia itu bagimu.' Aku saksikan beliau sangat marah. Aku sangat menyesal sambil berdoa dalam hati: Ya Allah, jika Engkau hilangkan kemarahan RasulMu terhadapku, aku tak akan lagi menyebutkan kejelekannya," kisah Aisyah.

Masih dari kisah yang sama, disebutkan Rosul marah mendengar ucapan istrinya yang masih belia dan rupawan itu, seraya berkata, "Apa yang kau katakan? Demi Allah, ia beriman ketika orang-orang mendustakan aku. Ia melindungi ketika orang-orang menolakku. Darinya aku dikaruniai anak-anak dan tidak aku dapatkan dari kalian."
Melihat reaksi suaminya, jelas Aisyah terpagut. Ia tak menyangka Rasul sekeras itu menanggapi perkataannya. Sebuah ekspresi kecintaan luar biasa Nabi pada Khadijah, yang kian membakar tungku kecemburuan Aisyah. Khadijah ra, umul mukminin berakhlaq agung, memang patut mendapat cinta Nabi. Tapi justru kecemburuan itu yang akhirnya memicu Aisyah berazam kuat untuk menapaki jejak sukses Khadijah merebut cinta agung Rosulullah saw.

Cemburu, selain ia sebagai indikator fenomena fitrah insaniyah, sikap itu memang sesuatu yang disunahkan Nabi. Dalam makna lebih luas, kelangsungan ekosistem fitrah alam pun sesungguhnya juga terkait erat dengan sifat cemburu.
Kita tidak bisa membayangkan, apa yang bakal terjadi pada dunia manusia bila mereka tak lagi memiliki rasa cemburu. Dalam etika pergaulan pasangan suami istri, jelas ia wajib ada. Suami yang tak pernah cemburu melihat istrinya keluyuran malam hari sendirian misalnya. Atau cuek melihat istrinya pindah dari pangkuan satu lelaki ke pangkuan lelaki lain. Jelas ini merupakan fenomena rusaknya fitrah seorang insan.

Hilangnya perasaan cemburu dari diri manusia tak lain lantaran, manusia terus-menerus memperturutkan hawa nafsunya. Alquran mengisyaratkan hal itu. "Maka datanglah sesudah mereka pengganti (yang buruk) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka kelak mereka akan menemui kesesatan." (QS 19:59)
Padahal turunan dari perilaku selalu memperturutkan hawa nafsu, adalah tercampaknya rasa malu dari dalam diri manusia. Itulah yang kini terjadi dalam pergaulan masyarakat Barat yang telah rusak. Ironinya, radiasi kerusakan itu telah merambah luas ke masyarakat Indonesia, khususnya kalangan muda-mudi. Kata Nabi, "Kalau engkau sudah tidak punya rasa malu, maka lakukan apa saja sesukamu."

Dalam tinjauan aqidah, malu dan iman merupakan dua sisi mata uang yang tak terpisah. Sebuah hadist mengatakan, "Dari Imron bin Hushoin ra berkata: Rasulullah saw bersabda, malu itu tidak menimbulkan sesuatu kecuali kebaikan samata." (HR Bukhori-Muslim)
Di hadist lainnya diriwayatkan, "Abu Hurairoh ra berkata: Rasulullah saw bersabda, 'Iman itu lebih dari 70 atau lebih dari 60 cabang rantingnya, yang terutamanya adalah kalimat Laa Ilaha Illallah. Serendah-rendahnya yaitu menyingkirkan gangguan dari tengah jalan. Dan rasa malu adalah bagian dari iman.'"

Yang pasti, malu adalah batas pembeda yang tegas antara manusia dengan binatang. Wajar binatang tidak punya rasa malu, karena ia tidak dikaruniai Allah swt nalar dan perasaan. Tapi jangan lupa binatang masih punya rasa cemburu. Lihatlah betapa kuatnya cemburu seekor merpati jantan pada pasangannya. Ia akan marah bila pasangannya direbut rekannya. Kalau demikian, apa yang kita bisa katakan pada manusia yang tidak lagi memiliki rasa cemburu dan malu?

Dari sini kita tau kenapa Alquran begitu sarkas mengecam manusia-manusia yang telah menjadi budak nafsu. "Ulaika kal an'am, balhum adhol" - "Mereka bagaikan binatang ternak, bahkan lebih hina lagi". Bukankah di dunia ayam misalnya, tak pernah terjadi ayam jantan dewasa memperkosa anak ayam perempuan? Bukankah tak pernah terjadi perilaku homo atau lesbi dalam dunia kerbau atau keledai?
Jika demikian kita boleh tarik satu konklusi, cemburu-malu-iman, pada hakikatnya berada pada satu garis linear. Sesungguhnyalah ketiga unsur itu menjadi satu senyawa yang menimbulkan gairah hidup manusia untuk memelihara kehormatan dan meningkatkan amaliahnya.

Kecemburuan Aisyah pun akhirnya berujung pada tekad kuatnya untuk meningkatkan kuantitas maupun kualitas amalnya. Sebab Aisyah menyadari bahwa hanya dengan modal cantik jasmani semata, ia tak mungkin mampu merebut cinta agung Rasulullah. Ia harus mempercantik bathinnya, mempercantik akhlaknya, mempercantik amalnya, dan mempercantik lisannya. Ini sebuah kecemburuan positif dan konstruktif.
Seharusnyalah para istri maupun suami harus cemburu ketika ia tak mendapatkan perhatian dan cinta dari pasangannya. Kalau terjadi kasus demikian, jangan dulu kalap dan menyalahkan pasangannya. Cobalah lakukan evaluasi dan kontemplasi. Jangan-jangan pemicunya adalah, lantaran keadaan masing-masing dalam kondisi stagnan. Tidak pernah ada peningkatan kualitas fisik, kualitas amal, apalagi kualitas akhlak dalam berumah tangga (misalnya berkomunikasi secara mesra) pada masing-masing pihak.

Adalah keliru cemburu dibalas oleh dendam, yakni dengan cara mempertontonkan perilaku urakan dan tercela. Misalnya marah-marah lalu menggaet perempuan/laki-laki lain dan mempertontonkannya secara demonstratif di depan pasangannya. Na'udzubillah min dzalik. Inilah yang terjadi pada dunia Barat saat ini, yang telah penuh sesak dengan kasus-kasus perselingkuhan. Berapa ratus bahkan ribu rumah-tangga yang broken home. Kemudian dari situ lahir generasi-generasi yang secara turun temurun mengukuhkan tradisi bejad: seks bebas.

Cemburu itu bumbu cinta. Karena itu jadikan dia sebagai penyedap sekaligus pemacu semangat mengubah diri ke arah positif dan konstruktif. Tapi hati-hati cemburu bisa jadi petaka, kalau masing-masing pihak tidak pernah merujukkan persoalannya pada rambu-rambu iman dan akhlaq.

TUJUAN HIDUP MENURUT ISLAM

TUJUAN HIDUP MENURUT ISLAM
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد الله الذي هدانا لهذا وما كنا لنهتدي لولا أن هدانا الله من يهد الله فلا مضلله فلا هادي له. اشهد أن لآاله الا الله وحده لا شريك له. واشهد أن محمدا عبده ورسوله. والصلاة والسلام على من لا نبي بعده. وعلى اله واصحبه ومن تبعه ووالاه. )امابعد( فياايها المسلمون اوصيكم واياي بتقوى الله. فقد فازمن تقى وخاب من طغى.   
Segala puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan kita kesempatan sehingga kita dapat melanjutkan akivitas kita sebagaimana mestinya. Shalawat dan salam atas junjungan Nabi Muahammad SAW yang telah membimbing ummatnya menuju jalan yang di ridhai Allah SWT.
Allah swt. menciptakan alam seisinya adalah sebagaimana amanat untuk manusia; sebab itulah Allah menetapkan kedudukan manusia sebagai khalifah-Nya.
Sebagai khalifah pengemban amanat Allah manusia berkewajiban menyelenggarakan kehidupan yang sesuai dengan tuntunan Allah yaitu suatu kehidupan yang bahagia dan penuh kemaslahatan yang dihiasi oleh Nur Islam.
Dengan demikian Hakikat hidup manusia adalah mengabdi kepada Allah dengan tujuan mengharap ridha'-Nya, sehingga semua yang diperbuat selama hidup dapat membuahkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Hakikat dan tujuan hidup inilah yang merupakan kendali agar dalam hidupnya manusia tidak akan berbuat dan bersikap sewenang-wenang.
Kita menyadari bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara, karena kita semua pada saatnya akan dipanggil kembali oleh Allah untuk meneruskan hidup di alam kelanggenan.
Oleh sebab itulah Islam memerintahkan umatnya untuk mempersiapkan diri dengan bekal yang cukup untuk hidup di dunia dan di akhirat kelak.
Dan itulah kiranya arah sabda Nabi saw. sebagai berikut:                                                                                
اعمل لدنياك كأنك تعيش ابدا، واعمل لأخرتك كأنك تموت غدا (الحديث)
Artinya : "Berusahalah untuk urusan duniamu seolah-olah engkau akan hidup selamanya; dan berusahalah untuk urusan akhiratmu seolah engkau akan mati esok hari".
Hadis di atas jelas menganjurkan keseimbangan usaha duniawi dan ukhrawi; juga merupakan peringatan bahwa amaliah-amaliah yang kita kerjakan di dunia sangat mempengaruhi keadaan kita di akhirat, bahagia atau celaka.
Teman-teman yang seperjuangan
Akan tetapi kita juga tidak dapat memungkiri bahwa justru karena sementara itulah kehidupan dunia terasa indah dan manis, sehingga tidak sedikit manusia yang terbujuk dan terpikat sehingga ia lupa akan hakikat dan tujuan hidupnya lalu terjerumuslah ia kelembah kesesatan dan timbullah kesewenang-wenangannya.
Ia berusaha menikmati manisnya hidup dunia sepuas-puasnya sehingga iapun bersedia melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kenikmatan itu.
Ia tidak segan-segan melakukan pemerasan, penindasan terhadap sesamanya; iapun tidak ragu-ragu lagi melakukan penipuan dan membohong, yang penting ia berhasil mendapatkan kenikmatan, baik yang berwujud harta benda, kedudukan, wanita ataupun lain-lainnya.
Jika sudah demikian keadaan seorang hilanglah kasih sayang dan rasa persaudaraan, yang berarti pula lenyaplah imannya terhadap Allah.
Padahal satu ciri orang yang beriman ialah adanya rasa kasih sayang sesama hamba Allah, sebagaimana sabda Nabi saw.:
لا يؤمن احدكم حتى يحب لاخيه ما يحب لنفسه (رواه البخارى ومسلم)
Artinya :   "Tidak beriman seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai diri sendiri".                                             
                 (H. R. Bukhari dan Muslim)
Nyatalah menurut keterangan hadits di atas bahwa kasih sayang sesama hamba Allah, atau lebih tegasnya sesama Muslim adalah merupakan ukuran Iman.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penyakit yang sangat berbahaya dalam kehidupan bermasyarakat ialah hilangnya rasa kasih sayang dan persaudaraan.
Itulah salah satu sebab diangkatnya para Utusan Allah; dan itu pulalah sebab pentingnya manusia beragama.
Islam sebagai agama yang dibawa oleh Muhammad saw. merupakan nasihat bagi orang-orang yang berada dalam kesesatan, sebagaimana sabda Nabi saw. :
 الدين النصيحة. (رواه مسلم)
Artinya : "Agama adalah nasihat". (HR. Muslim).
Islam memberikan nasihat kepada ummatnya bahwa sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah sementara dan merupakan permainan yang memperdayakan, sebagaimana tertera dalam firman Allah :
وما الحياة الدنيا الا متاع الغرور. (آل عمران: 185)
Artinya :   "Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan". (S. Ali Imran, ayat 185).
Berdasarkan ayat di atas Islam memerintahkan ummatnya untuk menjalani kehidupan dunia ini dengan cara-cara terpuji yaitu dengan tolong menolong sesama hamba Allah dalam berbuat kebajikan dan taqwa; juga diperintahkan kepada kita semua agar memupuk rasa persatuan dan persaudaraan.
Firman Allah dalam Al-Qur'an :
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (الحجرات : 10)
Artinya :     "Sesungguhnya orang-orang Mu'min adalah bersaudara maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat". (S. Al-Hujurat, ayat 10).
Dalam ayat lain disebutkan :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا (آل عمران : 103)
Artinya : "Berpeganglah kamu sekalian pada tali Allah (yakni agama Islam) dan janganlah bercerai berai". (S. Ali Imran, ayat 103).
Dua ayat di atas merupakan bukti nyata bahwa Islam sangat menekankan persatuan, persaudaraan atas dasar kasih sayang sesama Muslim. Sebagai pengertiannya ialah bahwasanya Islam tidak menghendaki tindakan sewenang-wenang, kekejaman dan penindasan yang lebih populer disebut sebagai Kolonialisme dan Imperialisme.
Saudara-saudara kaum Muslimin yang berbahagia.
Kita menyadari bahwa tidak sedikit saudara-saudara kita yang dalam hidupnya sangat menghajatkan pertolongan, yaitu mereka yang termasuk golongan para fuqara dan masakin; itulah sebabnya dalam Islam terdapat perintah berzakat serta anjuran bershadaqah.
Perintah zakat dan anjuran bershadaqah ini merupakan bukti bahwa Islam tidak menghendaki adanya kemelaratan dan kemiskinan; Islam menghendaki kebahagiaan hidup yang merata, sehingga menurut Islam di dalam harta yang dimiliki oleh si kaya sebenarnya terdapat hak si miskin.
Sekiranya kesadaran akan hakikat dan tujuan hidup telah terperinci dalam hati tiap pribadi Muslim, maka tidak ada keberatan bagi si kaya membantu si miskin, yaitu dengan memberikan zakat dan shadaqahnya; sebaliknya si miskin pun tidak keberatan menyerahkan tenaganya untuk membantu pekerjaan si kaya. Dengan demikian terdapatlah suatu kehidupan yang harmonis, tenggang menenggang, sehingga terciptalah suatu masyarakat yang aman dan damai atas dasar kasih sayang sesamanya, penuh ampunan dan ridla Allah.
Itulah tujuan hidup dalam Islam, yang menurut istilah populernya dikenal dengan sebutan sebagai masyarakat Sosialistis religious.
Akan tetapi untuk mencapai masyarakat yang demikian itu tidak hanya cukup dengan bergantungnya si miskin kepada uluran tangan si kaya, lebih dari itu Islam memerintahkan kepada ummatnya agar selalu bekerja keras dengan memeras keringat, kreatif dan produktif untuk menjadikan diri mereka masing-masing sebagai orang-orang yang berpenghasilan, sehingga tidak terdapat satu golongan manusia yang dianggap memberatkan masyarakat.
Oleh sebab itu kita bekerja sekuat tenaga mencari bekal hidup dengan niat ikhlas mengharap ridla' Allah; juga hendaknya kita senantiasa melandasi setiap usaha dengan Iman dan taqwa sehingga semua pekerjaan kita merupakan ibadat; ibadat dalam pengertian yang luas yaitu mencakup urusan hubungan sesama hamba Allah dan hubungan antar Allah dan Al-Khaliq, yang lebih lazim disebut Hablumminallah Dan Hablumminannas.
Teman-teman sekalian yang di ridhai Allah
Di dalam melaksanakan Hablun minannaas kita akan dihadapkan pada masalah yang bermacam-macam sesuai kepentingan dan bidang kita masing-masing.
Namun kesemuanya menuntut sikap dan tindakan yang baik, yaitu sikap dan tindakan yang didasari dengan akhlaq Islam.
Sebab jika seseorang telah mempunyai akhwal Islam maka akan menjadi orang yang rela berkorban; ia akan lebih mementingkan kemaslahatan ummat dari pada mementingkan urusan pribadi, sebab ia yakin bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang besar manfaatnya bagi masyarakat, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi saw. dalam sabdanya yang artinya kurang lebih demikian :
Artinya :     Sebaik-baik manusia adalah orang yang sanggup menjadikan dirinya sebesar-besar manfaat di tengah-tengah masyarakat". (HR. Thabrani).
Juga dalam melaksanakan Hablun minallaah kita dituntut untuk membersihkan hati dan 'aqidah dari noda-noda syirik, sehingga hubungan kita dengan Allah merupakan bukti penghambaan diri yang tulus ikhlas sebagai ketaatan yang mutlak.
Berbahagialah orang yang menyadari hakikat dan tujuan hidupnya dan berusaha menjalani hidupnya dengan berpegang erat pada tuntunan Allah, dan Rasul-Nya, sebab hanya dengan tuntunan itulah terhindar dari kesesatan.
Sabda Rasulullah saw.:
تركت فيكم امرين لن تضلوا ما تمسكتم بهما: كتاب الله وسنة نبيه. (رواه ابن عبد البرى)
Artinya :     Telah kutinggalkan bagimu dua perkara yang tak akan tersesat kamu semua jika berpegang pada keduanya, yaitu Kitab Allah dan Sunnah RasulNya".
              Hadits di atas menjelaskan bahwasanya Al-Qur'an dan Al-Hadits merupakan pedoman hidup yang telah dijamin kebenarannya, sehingga bagi mereka yang taat mengikuti ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Al-Hadits tidak akan tergelincir dalam kesesatan.
Secara keseluruhan Al-Qur'an dan Al-Hadits menuntun kita dalam berhubungan dengan sesamanya maupun dalam hubungan dengan Allah swt.
Tidak dapat diragukan lagi orang yang perjalanan hidupnya selalu bersandar pada dua peninggalan Rasulullah itu maka ia akan menunjukkan perangai terpuji itulah timbulnya amal-amal shaleh.
Dari perangai terpuji itu pulalah tumbuhnya sikap rela berkorban untuk orang lain dalam arti memperjuangkan kebahagiaan masyarakatnya manuju keridlaan dan ampunan Allah. Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghapur.
Lebih dari itu semua amal baktinya dilaksanakannya tanpa pamrih ataupun karena mengejar keuntungan pribadi; semuanya dilakukannya dengan niat ikhlas karena Allah semata-mata, sebagai pancaran imannya yang teguh.
Leh sebab itu marilah kita laksanakan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya dan kita tinggalkan semua larangan-larangan-Nya.

Semoga kita senantiasa memperoleh rahmat dan petunjuk Allah untuk mencapai cita-cita agama dan bangsa.     

HAKIKAT HIDUP SUKSES

HAKIKAT HIDUP SUKSES

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ حَقّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنّ إِلاّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
يَاأَيّهَا النَاسُ اتّقُوْا رَبّكُمُ الّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَاءً وَاتّقُوا اللهَ الَذِي تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَام َ إِنّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا
يَاأَيّهَا الّذِيْنَ آمَنُوْا اتّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْلَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ.

Ma’asyirol Muslimin yang dirahmati Allah
Marilah kita selalu meningkatkan iman dan taqwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan iman dan taqwa itu, manusia akan meraih kesuksesan yang sebenarnya dalam kehidupan. Baik kehidupan di dunia sekarang ini, atau diakhirat nanti. Karena seluruh manusia yang hidup di dunia ini akan menuju kepada akhir yang sama, yaitu menuju kematian. Allah berfirman:
@ä. <§øÿtR èps)ͬ!#sŒ ÏNöqpRùQ$# 3 $yJ¯RÎ)ur šcöq©ùuqè? öNà2uqã_é& tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ( `yJsù yyÌômã Ç`tã Í$¨Y9$# Ÿ@Åz÷Šé&ur sp¨Yyfø9$# ôs)sù y$sù 3 $tBur äo4quŠyÛø9$# !$u÷R$!$# žwÎ) ßì»tFtB Írãäóø9$# ÇÊÑÎÈ
Artinya,      : “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran/3 : 185)

Ayat Allah yang mulia ini, dengan tegas memberitakan bahwa tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Setiap orang, termasuk kita, akan merasakan kematian. Baik orang itu kaya atau miskin, berpangkat atau tidak; berani atau takut, semua akanmati, walaupun manusia lari kematian, dan berlindung di dalam benteng yang kokoh, ia tidak akan mampu menolak kematian. Allah berfirman:

$yJoY÷ƒr& (#qçRqä3s? ãNœ3.ÍôムÝVöqyJø9$# öqs9ur ÷LäêZä. Îû 8lrãç/ ;oy§t±B 3 bÎ)ur öNßgö6ÅÁè? ×puZ|¡ym (#qä9qà)tƒ ¾ÍnÉ»yd ô`ÏB ÏZÏã «!$# ( bÎ)ur öNßgö6ÅÁè? ×py¥ÍhŠy (#qä9qà)tƒ ¾ÍnÉ»yd ô`ÏB x8ÏZÏã 4 ö@è% @@ä. ô`ÏiB ÏZÏã «!$# ( ÉA$yJsù ÏäIwàs¯»yd ÏQöqs)ø9$# Ÿw tbrߊ%s3tƒ tbqßgs)øÿtƒ $ZVƒÏtn ÇÐÑÈ
Artinya         :  “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang Tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka Mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraansedikitpun?

Kemudian apa sebenarnya yang akan terjad setelah kematian? Apakah manusia setelah mati berubah menjadi tanah dan selesai segala urusan? Tidak! Akan tetapi, sesungguhnya ada kehidupan setelah kematian. Ada pembalasan terhadap segala perbuatan. Dan seluruh manusia akan melihat hasil perbuatannya. Jika perbuatannya baik, hasilnyapun baik. Sebaliknya jika perbuatannya buruk, hasilnyapun buruk.
@ä. <§øÿtR èps)ͬ!#sŒ ÏNöqpRùQ$# 3 $yJ¯RÎ)ur šcöq©ùuqè? öNà2uqã_é& tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ( `yJsù yyÌômã Ç`tã Í$¨Y9$# Ÿ@Åz÷Šé&ur sp¨Yyfø9$# ôs)sù y$sù 3 $tBur äo4quŠyÛø9$# !$u÷R$!$# žwÎ) ßì»tFtB Írãäóø9$# ÇÊÑÎÈ
Artinya,        :  “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah akan disempurnakan balasanmu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran/3 : 185)
Kita lihat kenyataan di dunia ini, keadilan tidak tegak dengan sebenarnya! Memang di dunia ini sudah ada balasan, namun belum sempurna. Demikian juga di alam kubur, ada pembalasan, ada nikmat kubur, ada siksa kubur, namun itu juga belum sempurna. Balasan yang sempurna adalah setelah pengadilan agung pada hari kiamat. Sudah siapkah kita menghadapinya? Siapkah kita mempertanggungjawabkan segala perbuatan kita? Semoga kita selalu mendapatkan bimbingan Allah Ta’ala, meniti jalan yang lurus, hingga akhir hayat kita.

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا أَسْتَغْفِرُ الله لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرّحِيْمُ


والسلام عليكم و رحمة الله و بركاته